malam malam gini masih memposting blog, kali ini beda topik, topik yang diangkat yakni Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau (K3) , Kesehatan Lingkungan Surabaya Poltekkes Kemenkes juga ada K3 jadi kita gak melulu Kesehatan , ada safety dan environmental maka kita setelah lulus dapat langsung bekerja tanpa menganggur dulu.

masuk dalam materi yaah, dasarannya dulu yang dibahas

K3 sangat gencar sebagai icon setiap sektor , guna untuk memotivasi pekerja yang bekerja agar keselamatan jangan sampai diabaikan.. tingkatkan safety, safety first dll! sering melihat tulisan itu di semen gresik, petrokimia dll

K3 banyak mempunyai pengertian

secara Persepsi/pandangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) : K3 merupakan bagian integral dari harmoni system. Misalnya program mutu, Mbo , manajemen lingkungan ,produksi dan pemasaran serta Kegagalan dalam pelaksanaannya dikarenakan kesalahan persepsi sehingga K3 dianggap beban (Coss centre)‏

Secara Filosofi : Upaya / pemikiran dalam menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani rohani manusia pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya serta hasil karya dan budaya yang dalam rangka menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Secara keilumuan : Ilmu dan penerapan teknologi pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Secara (Definisi) K3 Menurut OHSAS 18001:2007 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.

untuk secara umumnya Kesemalatan Kerja merupakan upaya perlindungan yg ditujukan agar tanaga kerja & orang lain di tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat dan agar setiap sumber produksi perlu dipakai dan digunakan secara aman dan efisien. Keselamatan Kerja diartikan sebagai “Suatu cabang ilmu pengetahuan dan penerapan yang mempelajari tentang cara penanggulangan kecelakaan di tempat kerja”

nah sedangkan “Sehat”, menurut Badan Dunia World Health Organization (WHO),Sehat adalah suatu keadaan sempurna baik fisik, mental, & sosial tdk hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Sedangkan menurut UU RI 36 Tahun 2009 Tentang pokok-pokok kesehatan dijelaskan bahwa KESEHATAN adalah meliputi Kesehatan Badan, Rohaniah (mental) dan Sosial, bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.

Tujuan utama dari Keselamatan dan kesehatan kerja adalah “menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif”, Mencegah Kecelakaan Kerja karena Peledakan, Kebakaran, Pencemaran lingkungan maupun Penyakit Akibat Kerja (PAK). Sedangkan tujuan keselamatan dan kesehatan kerja menurut Komite bersama ILO dan WHO adalah :

  1. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani maupun sosial untuk semua lapangan pekerjaan.
  2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi kerja.
  3. Melindungi tenaga kerja dari bahaya kesehatan yang timbul akibat pekerjaan.
  4. Menempatkan tenaga kerja pada suatu lingkaran kerja yang sesuai dengan kondisi fisik, faal tubuh mental psikologi tenaga kerja yang bersangkutan.

dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja upaya apa aja yang dilakukan guna memberi jaminan kepada pekerja, dengan tindakan kegiatan :

  1. Pencegahan dan pemberantasan penyakit, pencegahan diberikan saat training pekerja guna tingkat produktifitas pekerja tersebut baik sedang pemberantasan disini membekali pekerja agar penyakit akibat kerja dan penyakit lingkungan tidak terjadi dengan pengadaan Alat Pelindung Diri
  2. Pencegahan kecelakaan kerja, menjamin pekerja dengan pembekalan suatu skill lewat training guna menunjang keterampilan saat kerja sesuai prosedur SOP (cara pengoperasiannya, APD yang sesuai, timing worknya)
  3. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pekerja dijamin sehat saat bekerja dengan pemeliharaan berkala terhadap kesehatan pekerjanya caranya pemeliharaan bagaimana? dengan memberikan jaminan asuransi kerja bisa lewat BPJS kesehatan, BPJS ketenagakerjaan, jamsostek dll sedang peningkatan kesehatan itu dilakukan berkala lewat checkup gratis pekerja
  4. Peningkatan gizi tenaga kerja, gizi sangat penting dalam menunjang keefektifan skill tujuannya memperkecil resiko kecelakaan akibat kerja, bagaimana caranya? dengan pemberian katering tiap jam istirahat menu sehat bergizi.
  5. Pemberantasan kelelahan kerja, siapa yang mau pekerja kelelahan akibatnya terjadi kecelakaan kerja, yang rugi siapa? perusahaan rugi karena kehilangan waktu produksi (jadi lama target selesainya), pekerja juga rugi (rugi waktu rugi segi ekonomi) perusahaan tidak mungkin membiarkan maka pekerja diberi timing work yang sesuai tingkat kesulitan yang dikerjakan pekerja, menempatkan pekerja pada tempat yang sesuai, pembagian tugas diarea kerja merata.
  6. Penglipatgandaan dan kenikmatan kerja, apabila pekerja bekerja dengan ketekunan dibidangnya maka berisi insentif pekerjanya serta masukkan dalam agenda famgath bersama guna untuk saling silahturahmi kenikmatan kerja tersendiri
  7. Perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan agar terhindar dari bahaya-bahaya pengotoran oleh bahan-bahan dari perusahaan yang bersangkutan, nah pada point ini masyarakat sekitar perusahaan diberikan suatu penghargaan dalam bentuk sosial ke masyarakat dan yang sering mempekerjakan masyarakat sekita ikut mengembangkan perusahaan
  8. Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk perusahaan, nah pada point ini juga sama dengan point ketujuh.

B.   SEJARAH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

  1. Diluar Negeri

Para perintis kesehatan muncul pada abad XVI, dimulai ada kurun waktu tahun 1494 – 1555, dimana Agricola dan Paracelcus (1493-1541) dalam karangannya yang berjudul “De Re Metalica”, Agricola menyebutkan bahwa penyakit-penyakit yang terutama ditemukan pada pekerja tambang di Bohemia adalah penyakit Paru, yaitu Silikosis, Tuberkulosis dan Kanker Paru. Pada saat itu angka kematian penyakit paru tinggi dan hal menyebabkan wanita-wanita yang tinggal di daerah pertambangan umum yang kawin sampai 7 kali karena suami-suaminya meninggal pada usia yang relatif  muda akibat menderita penyakit paru. menyadari perkembangan industri mengakibatkan resiko akibat kerjanya juga

Selanjutnya yang benar-benar sebagai bapak Higiene perusahaan dan kesehatan kerja adalah Bernardine Ramazzini (1633-1717), beliaulah yang menulis buku “De Morbis Artificum Diatriba”. Dalam buku tersebut diuraikan tentang berbagai penyakit dengan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja. Beliau yang membuat terang persoalan, bahwa pekerjaan dapat menimbulkan penyakit, yaitu penyakit akibat kerja. Beliau yang telah menambahkan kepada cara diagnosa Hippocrates dengan satu hal, yaitu minta si-sakit untuk menceritakan pekerjaannya. Berikut merupakan nasehat Ramazzini :

“Jika seorang dokter mengunjungi rumah seorang pekerja, ia harus puas duduk dibangku kaki tiga, bila tidak ada kursi yang baik dan ia harus menyediakan cukup waktu untuk memeriksanya, dan kepada pertanyaan yang dianjurkan Hippocrates ia harus menambahkan satu lagi “ Apakah Pekerjaan ?”. Anjuran  Rammazzini ini sangat penting mengingat mustahilnya menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja.

Kemudian Hiperkes berkembang sangat cepat dan pesatnya oleh karena dorongan revolusi industri di Inggris sebagai akibat ditemukannya cara-cara  produksi baru dan mesin-mesin baru untuk industri dan pengangkutan yang terjadi di inggris di tahun-tahun sekitar 1760-1830. Selanjutnya di abad ke 20 ini, higiene perusahaan dan kesehatan kerja dirasakan sebagai suatu keharusan, oleh karena Hiperkes memiliki segi-segi, baik kesejahteraan tenaga manusia maupun demi produksi.

  1. Di Indonesia

Awal mula Hiperkes di Indonesia tidak diketahui secara pasti, namun demikian adalah pasti bahwa cara-cara kedokteran kuno dan pengobatan asli sudah dipergunakan untuk menolong korban-korban peperangan dan penyakit-penyakit atau kecelakaan oleh karena pekerjaan dalam bidang perindustrian rakyat pada waktu itu. Kemudian datanglah Belanda di abad ke 17 dengan pendaratan kapal VOC di Jakarta.

Dinas kesehatan yang diadakan oleh Belanda pada mulanya adalah dinas kesehatan militer, yang baru kemudian beralih kepada dinas sipil. Barangkali mengikuti riwayat itu, dapatlah dikatakan bahwa hiperkes kolonial itu bersemi pada kesehatan ketentaraan, sebagaimana terjadi pada perkembangan hiperkes dimana-dimana.

Indonesia sejak permulaan penguasaan Belanda dijadikan penghasil bahan baku, yang dihasilkan di bidang perkebunan, kehutanan pertambangan dan lain-lain. Hiperkes kolonial ditujukan untuk memberikan kesehatan sekedarnya kepada pekerja-pekerja kita, agar mereka cukup sehat dan mampu memproduksi bahan-bahan yang diperlukan Belanda.

Pada jaman Jepang boleh dikatakan sama sekali tidak memberi dorongan atau pemikiran tentang hiperkes, maklumlah waktu itu jaman hebat-hebatnya perang dunia II.

Perkembangan hiperkes di Indonesia sesungguhnya baru terjadi di jaman kemerdekaan, yaitu dimulai beberapa tahun sejak proklamasi kemerdekaan, dengan munculnya Undang-Undang Kerja dan Undang-Undang Kecelakaan Kerja, walaupun pada permulaannya belum berlaku, namun telah memuat pokok-pokok tentang Hiperkes  dan para perintisnya mulai bekerja dan berpraktek di perusahaan-perusahaan. Kemudian dimasukkanlah jawatan-jawatan pelaksana undang-undang ke dalam tubuh Departemen Perburuhan, yaitu jawatan-jawatan pengawasan perburuhan dan pengawasan keselamaan kerja.

Selanjutnya pada tahun 1957 Departemen Perburuhan mendirikan Lembaga Kesehatan Buruh yang berfungsi sebagai penasehat dan alat meningkatkan mutu ilmiah kesehatan buruh, kemudian tahun 1965 diganti menjadi Lembaga Keselamatan dan Kesehatan Buruh, yang secara garis besar berfungsi :

  1. Sebagai pusat pendidikan yang ditujukan kepada calon-calon dokter, dokter-dokter yang akan bekerja di perusahaan, pengawas-pengawas perburuhan.
  2. Untuk memberikan jasa dan nasehat kepada perusahaan
  3. Pusat riset untuk mempertinggi mutu keilmuan kesehatan dan keselamatan kerja
  4. Penghubung kerja sama internasional dalam kesehaan dan keselamatan kerja.

Pada tahun 1966, dengan reorganisasi Kabinet Ampera, jelaslah kedudukan dan fungsi Hiperkes dalam aparatur Pemerintah, yaitu dengan resminya Dinas Higiene Perusahan/Sanitasi Umum dan Dinas Kesehatan Tenaga Kerja di Dperatmeen kesehatan, dan lembaga Hiperkes di Departemen Tenaga Kerja. Selain itu, terbentuk pula pada tahun itu organisasi swasta, Yayasan  Higiene Perusahaan di Surabaya. Setahun kemudian (1967 berdirilah di Bandung, badan Pembina dan Konsultasi Higiene perusahaan, yang juga merupakan suatu badan swasta).

Berbagai peristiwa penting telah terjadi pada tahun 1969. Pertama-tama  ialah diselenggarakannya seminar tentang Kesehatan dan Produktivitas Kera, di Jakarta dan dalam seminar dirumuskan secara jelas ruang lingkup dan tujuan Hiperkes dalam rangka Pembangunan di Indonesia. Kedua, dimasukkannya suatu proyek pembinaan Hiperkes dalam Pelita I. Ketiga,  Konvensi ILO nomor 120 tentang Hiperkes di kantor-kantor  dan perniagaan diratifikasi. Demikian pula undang-undang tentang pokok-pokok tenaga kerja, yang memuat  pasal-pasal tentang Hiperkes diundangkan pada tahun tersebut.

 

Undang-undang tentang Keselamatan Kerja diundangkan pada tahun 1970, dimana UU ini  menggantikan Veiligheids Regiement  dan didalamnya  terdapat pasal-pasal yang sejalan dengan dasar-dasar Hiperkes. Selanjutnya Ikatan Higiene Perusahaan, Kesehatan Kerja, dan Keselamatan Kerja didirikan pada tahun 1971, dengan pengambil inisiatif Dr. Suma’mur P.K., Dr. Sutidjo, Dr. Marwoto. Training pertama pada 30 dokter perusahaan dilakukan di Jakarta pada tahun 1971.

Tahun 1973 merupakan usaha pembinaan terhadap laboratorium Hiperkes di Jakarta, Surabaya, Medan dan Ujung Pandang. Dalam tingkat Internasional, wakil-wakil Indonesia mendapat kehormatan untuk memegang beberapa jabatan dalam Hiperkes. Sebagai contoh Dr. Suma’mur P.K diangkat menjadi Presiden Ikatan Hiperkes Asia serta sekretaris Komisi untuk negara  berkembang dari Komisi tetap internasional Hiperkes. Pada tahun 1972 Dr. Suma’mur P.K diangkat menjadi anggota “Panel Advisory Expert”, WHO, Geneva.

 

Semoga bermanfaat semua

#materikuliah .  politeknik kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya Kesehatan Lingkungan